Kamis, 23 Agustus 2007

Jemek Supardi, Manusia Tanpa Kata


IA lahir dari kelam. Sekitar tiga puluh tahun lalu, Pardi Kampret, yang kini dikenal dengan nama Jemek Supardi, tumbuh di tengah keributan terminal Prawirotaman, Yogyakarta, terminal utama Kota Gudeg saat itu. Malamnya adalah temaram lampu Stasiun Tugu. Siangnya adalah keringat tukang parkir di sepanjang Jalan Malioboro.
Lelaki kurus, berambut gondrong dengan jidat membotak itu mengakrabi kawasan kelam kotanya. Seperti penghuni lain dunia itu, dia hidup dengan mencopet di Sekatenan, mencuri perhiasan mayat, judi cliwik, main kartu, dan bergaul dengan pelacur di rel kereta api.

Karena kehidupan demikian, lelaki kelahiran Pakem, Sleman, Yogyakarta, 4 Maret 1953 itu hanya sempat tamat SMP setelah tujuh kali ganti sekolah, lulus SD setelah tak naik kelas tiga kali, dan tiga bulan mengecap Jurusan Seni Lukis Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia. Namun, jalan hidupnya berubah ketika dia mengenal kesenian.

Terang Teater
Pertengahan 1970-an, Yogya adalah kota seni yang dinamis. Malioboro dipenuhi seniman berambut gondrong dan urakan. Di situlah orang-orang seperti Presiden Malioboro Ashadi Siregar, Landung Simatupang, Rendra, Emha Ainun Najib, Adi Kurdi, dan Linus Suryadi Agustinus nongkrong. Jemek heran melihat mereka dan curiga mereka sama seperti dia, bajingan berbahaya yang harus diwaspadai. Tapi setelah tahu mereka seniman--sebagian dari Bengkel Teater Rendra--Jemek muda mulai tertarik.

Sikap seniman yang egaliter dan terbuka terhadap orang pinggiran menjadi ruang baru bagi Jemek. Teater kemudian mulai digelutinya dengan bergabung di sejumlah kelompok, seperti Teater Alam, Teater Dinasty, dan Teater Boneka. Namun, Jemek bukanlah seniman yang kuat menghapal. Teater yang bersandar pada dialog tidak cocok untuknya. Dia paling-paling kebagian figuran yang tak perlu dialog. Namun, dari sinilah dia mengembangkan seni peran yang belakangan diketahuinya sebagai pantomim. Dia pun rajin menonton pentas pantomim dari luar negeri yang pentas di sana, termasuk empu pantomim Prancis, Marcel Marceau, yang dikaguminya.

Pergaulan dan diskusinya dengan para seniman telah menggemburkan tanah kesenian di batinnya. "Lingkungan ini seakan-akan merestui dia berkarya," kata Edi Haryono, pimpinan Bela Studio dan anggota Bengkel Teater Rendra yang masa itu kamar kostnya rajin disinggahi Jemek. Dari sekadar berpantomim pendek mengisi beberapa acara, akhirnya Jemek pentas tunggal pada 1979 di Seni Sono, Yogya. Lalu puluhan karya lahir dan pantomim menjadi nadi hidupnya.

SENI KEHIDUPAN
Biografi kehidupannya itu lalu diringkasnya dalam sebuah pentas pantomim Teman Makan Teman yang menjadi bagian pergelaran "50 Tahun Jemek Supardi, Berkesenian Tanpa Kata" oleh Jemek dan MiM teater di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 5-6 Maret. Tiga orang pemain termasuk Jemek kompak menyampaikan biografi itu dengan gerakan-gerakan dinamis dan lucu serta iringan musik yang cukup keras. "Ini menggambarkan berbagai macam sisi kehidupan saya, tidak hanya yang baik tapi juga tidak baiknya," kata Jemek.

Selain nomor itu, selama dua jam Jemek mementaskan lima karya lain, Halusinasi Seorang Pelukis, Selamat Datang Jakarta, Dokter Bedah, Tukang Cukur dan Kesaksian Udin. Ia didukung tiga pemain pantomim Broto, Asita, dan Win Mukti serta peran pembantu Keken, Kuncoro JP dan Guntur Songgolangit.

Hendro Suseno, penanggung jawab pagelaran itu, mengatakan Jemek memiliki berbagai sisi unik. Masa lalunya yang keras dan kelam tidak mematikan kreativitasnya, tapi justru sebaliknya, sehingga dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang lekat dengan pengalaman pribadinya. Halusinasi Seorang Pelukis, misalnya, diilhami kehidupan isterinya, pelukis Freda Mairayanti. Di situ Jemek berperan sebagai pelukis yang menggambar seorang penari dan berkhayal penari itu benar-benar ada. Tema ini tampaknya semacam variasi dari karyanya terdahulu, Pelukis Yang Terjebak Imajinasinya (1995).

Sedangkan Kesaksian Udin merupakan karya lama dari Trilogi Kekuasaan-nya (dua lainnya, Pisowanan dan Kotak-kotak) yang pernah ditampilkan pada 1997 di Solo dan Yogya. Kesaksian Udin merupakan rekaman pantomim tentang Udin, wartawan Yogya yang kematiannya masih misterius hingga kini. Pada 1997 pula Dokter Bedah dipentaskan. Pada pentas peringatan 50 tahunnya, dengan sedikit pembaharuan, karya itu mengisahkan dokter yang membedah pasien dengan gergaji dan menemukan kabel, telepon genggam, jam weker, dan bom di dalamnya.

Pantomim Jemek sering sensasional. Dia misalkan berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1997. Lantas, dengan pakaian pantomim--kaos hitam-hitam dan muka putih--dia berangkat dari rumahnya di Jl. Katamso dan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Dia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro. Jalan itu pun macet total.
Dia juga pernah berpantomim sepanjang Yogyakarta-Jakarta bolak-balik naik kereta api. Saat maraknya aksi mahasiswa menuntut Presiden Soeharto mundur, Jemek menggelar aksi diam dari Yogya hingga Jakarta.

Jemek jadi buah bibir ketika menggelar Bedah Bumi (1998). Di pentas itu dia "mati" dan "dikubur" di Makam Kintelan tempat para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Jemek menyewa 10 tukang becak untuk membawa 10 peti mati, satu peti berisi dirinya. Di makam, peti-peti diturunkan dan seorang rois membacakan doa orang mati. Lalu Jemek muncul dari peti, melepas kostumnya hingga tinggal berkain putih, lalu berkeliling makam, bertanya pada nisan-nisan di mana liang kuburnya.

Bagi Jemek, aksinya di luar ruangan itu karena keprihatinannya terhadap pantomim yang masih dipandang sebelah mata. "Itu cara saya mempopulerkan pantomim sebagai kesenian menarik dan bisa bicara tentang apa saja termasuk realitas sosial dan politik," kata Jemek yang kini rambutnya bagian depan dipangkas habis hingga mirip pemeran film silat dari Cina, Jet Lee.

Namun, pantomim macam apa yang dilakoninya? Edi Haryono menilai pantomim Jemek berbeda dari pengertian Barat. "Dia berangkat dari alamiah, naluriah, bukan persentuhan dengan teknik," kata Edi. Baginya, pantomim Jemek mirip dengan seni tradisi mbarang yang dulu pernah hidup di kampung-kampung Jawa Tengah.
Yang patut dikagumi dari Jemek adalah kekonsistennya dalam berpantomim. "Saya suprise, karena kesenian baginya bukan soal coba-coba tapi hidup itu sendiri," kata Edi.

Minggu, 19 Agustus 2007

Kenal Pantomim Berkat Kuburan Dibongkar


Yogyakarta - Berbicara pantomim tak bisa lepas dari nama Jemek Supardi. Betapa tidak, hingga saat ini telah 27 tahun ia menggeluti dan mengabdikan hidupnya dalam dunia pantomim yang diakuinya kurang populer dibandingkan dengan dunia seni lainnya.

“Apa boleh buat. Ini sudah menjadi pilihan saya. Tak mungkin saya berpaling ke seni yang lain. Selain usia saya sudah tua, saya juga melihat dunia pantomim ini cocok dengan saya,” kata Jemek, lelaki kelahiran Yogya, 14 Maret 1953.
Pilihannya menjadi seniman dalam seni pantomim ini, menurut Jemek--lelaki yang berkepala plontos--bukannya tanpa dasar. Memang, pada awalnya ia sebagaimana teman-temannya yang lain bermain teater dan bergabung di Teater Alam pimpinan Azwar AN.

“Tapi karena kemampuan saya dalam memahami serta menghafal naskah kurang dan tak mau mengganggu teman main saya, ya saya putuskan menggeluti seni pantomim,” ujar Jemek kepada SH, di rumahnya yang terletak di Jl Brigjen Katamso, Yogyakarta, sederetan dengan toko penjual peti mati.

Nyatanya, pilihan Jemek tak salah. Dan ini dibuktikan dengan seringnya ia pentas, baik di dalam Kota Yogya maupun di luar kota, seperti Surabaya ataupun Jakarta. Tak hanya di panggung formal, tapi juga dilakukan di jalanan maupun di dalam kereta api. Bahkan ia sempat pula bermain di hadapan jenazah Ibunda Romo Sindhunata di Malang pada tahun 2005.

“Saya berusaha agar bisa pentas, minimal sekali dalam setahunnya. Ini untuk menjaga eksistensi saya sehingga proses kreatif saya tak berhenti di samping memopulerkan pantomim,” tegas Jemek, bapak dari seorang anak ini.

Sebagai seniman yang matang dalam dunia pantomim, Jemek sudah banyak melahirkan karya, antara lain Halusinasi Seorang Pelukis (1986), Jakarta-Jakarta (1981), Kesaksian (1997), maupun Dokter Bedah (1981). Dalam karyanya, Dokter Bedah, Jemek menyindir kecerobohan seorang dokter yang meninggalkan berbagai benda di dalam perut pasiennya.

Jemek memang berkepentingan untuk menjaga seni pantomim tetap eksis. Pasalnya, saat ini sudah sangat jarang orang yang mau menggelutinya. “Bisa dibilang regenerasinya sulit. Kalau ada lomba memang selalu ada pesertanya. Tapi setelah lomba usai, pemenangnya ya sudah, tak lagi mau terjun. Ketertarikannya hanya sebatas ikut lomba saja,” ujar Jemek yang mengaku mantan seorang “bajingan”.

Panggilan dan Pengaruh Lingkungan
Menyadari semakin tak populernya seni pantomim, toh Jemek tak mau gusar dan mencoba memaksa para pemenang lomba pantomim terus terjun ke dunia seni ini. “Karena ini pilihan dan mungkin dipandang kalah menarik dibanding dengan seni-seni yang lainnya,” tuturnya lagi.

Terjun ke dunia seni, dalam pandangan Jemek, memang suatu panggilan sekaligus keterpengaruhan lingkungan. Ia lantas mengisahkan dirinya sendiri. Sebelum menggeluti dunia seni, ia sebagai pemuda yang berandalan, suka berkelahi dan lain sebagainya. Karena suka keluyuran malam, dirinya dipanggil Supardi Kampret.
Namun keadaan menjadi berbalik arah. Hal ini diawali ketika kuburan Kerkop yang berada di dekat rumahnya dibongkar dan dijadikan sebagai Taman Hiburan Rakyat (THR), sekarang namanya Pura Wisata. Di lahan yang beralih fungsi inilah sering dipentaskan berbagai kesenian, utamanya Ketoprak dan Wayang Orang. “Di sinilah saya lantas mengenal dunia seni. Kontan saja saya yang dulunya orang tak berbudaya menjadi mengenal budaya yang begitu santun terhadap orang lain,” tutur Jemek yang mempunyai istri seorang pelukis.

Kenalannya dengan dunia seni juga ditopang dengan banyaknya anggota Bengkel Teater yang kos di sekitar THR, seperti Adi Kurdi. “Ketika mereka mau latihan ke Bengkel Teater, saya sering ikut. Di sana saya hanya melihat dan mencoba memahami kesenian,” kata Jemek yang sering telanjang dada ini.

Dan dari sekadar “mengintip” inilah ia mencoba memasuki dunia teater dengan bergabung pada teater Alam pimpinan Azwar AN. Di situlah ia lantas mendalami dunia pantomim dan kemudian dipanggil Jemek Supardi. “Saya dipanggil Jemek karena saya kalau pantomim selalu guling-guling di tempat yang basah,” tuturnya. Jadilah ia bernama Jemek Supardi hingga saat ini.(*) Yuyuk Sugarman, SP

Senin, 16 Juli 2007

Parodi Hidup dan Mimpi Tanpa Kata


Oleh Alex Suban (Wartawan Suara Pembaharuan)


HALUSINASI - Pantomimer, Jemek Supardi, memainkan peran sebagai pelukis yang terhanyut dalam kekaguman karyanya. Ia bermimpi lukisannya menjelma menjadi nyata, dalam salah satu nomor pantomim "Halusinasi Seorang Pelukis" di Bentara Budaya Jakarta, baru-baru ini.
HARAPAN sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin karena itu, kehidupan manusia selalu dibayangi mimpi. Kenyataan hidup terasa jauh lebih rumit dari mimpi. Begitulah versi hidup dari Jemek Supardi yang menggunakan medium pantomim untuk refleksi problematika hidup di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), baru-baru ini.Jemek Supardi menggelar pertunjukan dalam rangka 50 tahun perjalanan berkeseniannya. Dengan pertunjukan yang sama, Jemek tampil sukses di Yogyakarta Maret 2003. Aksi pantomimnya di BBJ disaksikan sekitar 200 orang yang duduk lesehan. Jemek menggunakan properti panggung yang sederhana, selembar layar putih membentang di tengah panggung.Pentas yang berjudul Berkesenian Tanpa Kata-kata ini kental dengan parodi, khas tontonan pantomim. Di depan penonton, dia berkisah tentang nasib para tukang cukur yang tergilas salon-salon mewah. Tukang cukur yang kerap mangkal di bawah pohon makin tersingkirkan, sepi pelanggan. Sampai-sampai, si tukang cukur mesti merayu seorang bocah agar mau dicukur. Berikutnya sebagai gambaran ironi, mereka malah saling mencukur demi eksistensi profesi.Gaya pantomim yang kocak masih diangkat Jemek pada segmen selanjutnya. Jemek menyentil kesombongan yang menjadi budaya masyarakat. Kali ini, dia berlagak seperti pelukis kawakan. Jemek dengan atribut pelukis mengerjakan lukisan seorang penari. Wajah si penari yang jelita sangat padu dengan tubuhnya yang gemulai. Jemek menampilkannya lewat siluet penari di balik kain putih.Sang pelukis sangat mengagumi karyanya. Tubuh penari itu demikian indahnya sehingga ia memandangi terus ke arah kanvas. Ia larut dalam kekagumannya, sehingga terlelap dan terbuai mimpi.Dalam halusinasinya sang penari melompat dari kanvas dan menari mengelilinginya. Perempuan jelita berkemben merah dan berambut hitam menari dengan lemah gemulai. Sang penari mengelilingi dan mendekati sang pelukis yang tertidur, kemudian mengelus rambutnya. Bau ha-rum tubuh sang penari membangkitkan pelukis dari lelapnya. Dengan wajah tak percaya tatapannya tak bisa menghindar dari gemulainya gadis molek itu. Ia terhanyut kala sang penari mencium pipinya. Sang pelukis tak kuasa menahan diri dan ia melompat dari kursinya. Dia mengejar sang penari dan merengkuhnya. Sang pelukis terbangun, karena menabrak kanvas lukisan.Jemek dan kawan-kawannya dari Yogyakarta, tidak hanya menampilkan keseriusan dalam pertunjukannya. Kelucuan-kelucuan mengalir dari gerakan-gerakan konyol yang menyentil. Gelak tawa para penonton tidak henti-hentinya saat adegan mandi.CerobohBetapa cerobohnya seorang dokter yang mengoperasi pasiennya di ruang bedah. Sang dokter sampai meninggalkan telepon genggam di dalam perut si pasien.Nama Jemek dan pertunjukannya yang menghibur dengan sentilan yang cerdik, menahan penonton untuk tetap bergeming, walaupun harus bersusah-susah menembus hujan deras yang mengguyur saat itu.Jemek yang pada 4 April 2003 sudah menjalani hidup selama setengah abad memang lebur dalam dunia seni tanpa kata-kata. Pantomim sudah mengalir dalam urat nadi seniman asal Yogyakarta ini. Walaupun seni pantomim tidak mendapat tempat sejajar dengan seni pertunjukan lainnya, Jemek tetap konsisten menjalaninya.Dalam perjalanan hidupnya yang penuh kontroversi, kegelisahan selalu mengganggu pikirannya. Namun ia tidak lancar menjalin kata-kata yang indah, sehingga kegelisahannya ia ramu dalam berbagai karya yang ditampilkan sebagai refeleksi setengah abad usianya.Jemek memang penuh kontroversi, bahkan kegilaan menurut ukuran orang biasa. Ia tidak hanya berpantomim di atas panggung, lahan kuburan pun menjadi pentasnya dalam berkesenian. Berbagai cara dilakukannya untuk menaikkan pamor pantomim. Mengkritik Soeharto dengan bahasa tubuh pun ia lakukan dalam waktu sepuluh jam perjalanan kereta api dari Yogyakarta ke Jakarta. (A-20)

Jumat, 13 Juli 2007

Melawan Korupsi via Pantomim

MELAWAN tindakan korupsi tidak selalu dengan kata-kata. Jemek Supardi (54) misalnya, justru dengan gerakan-gerakan yang jika diterjemahkan maknanya juga sama, yakni berantas korupsi. Pada kampanye anti korupsi yang berlangsung di Bunderan UGM, persis di hari valentine, 14 Februari lalu, pantomimer Jemek Supardi pun dalam aksinya mencoba mengekspresikan tindakan seorang pejabat yang coba-coba melakukan korupsi. Malahan, jika memerhatikan gerakan pantomim yang digambarkan Jemek, korupsi yang dilakukan pejabat itu, sudah sangat blak-blakan. “So!” kata Jemek sembari menempelkan telapak tangannya ke tangan Hendro Pleret yang saat itu bertindak sebagai MC.
Saat berbincang dengan KR, Jemek menyatakan, bukan pekerjaan gampang memerangi korupsi. Apalagi, penyakit tersebut dinilainya sudah mendarah daging di negeri ini. Tetapi, diakuinya, tema korupsi sangat menantang untuk diangkat dalam seni pantomim. “Ya, kalau saya tema korupsi yang sederhana dan ada di sekitar kita saja,” kata Jemek, yang tetap setia dengan profesinya itu.Menurut Jemek, seorang pekerja seni pun bisa melakukan korupsi. Misalnya, dirinya yang seharusnya tampil 15 menit, tetapi ternyata belum genap 10 menit sudah rampung. “Itu, kan juga korupsi waktu,” ujar Jemek yang mengaku sudah berusia lebih dari kepala lima ini.

Ketika mendapat tawaran untuk mengisi acara kampanye anti korupsi yang digagas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di UGM, Jemek merasa senang dan tak masalah. “Karena, pantomim sudah merupakan profesi, saya jalani saja,” katanya. Bagi Jemek, seni pantomim bukan sekadar dimainkan asal-asalan.

Tetapi, harus penuh penghayatan. Bahkan, tak jarang yang ia lakukan merupakan pengalaman keseharian yang dihadapi. Dalam kehidupan nyata, Jemek sudah banyak makan asam garam. Dirinya, pernah menjadi penggali dan penunggu kubur. Laki-laki dengan ciri khas menggunduli separo kepalanya ini, pernah pula menjadi ‘pemangsa’ sesaji yang dipersembahkan seorang peziarah di tiap malam Jumat Kliwon.Sejumlah karya Jemek yang pernah dipentaskan di panggung di antaranya Lingkar-lingkar, Dokter Bedah, Tukang Cukur, Halusinasi Seorang Pelukis, Jakarta-jakarta dan Kesaksian. Di kalangan seniman di Yogya, Jemek Supardi, termasuk suhu. Terlebih, kepiawaiannya berpantomim belum ada yang menyamai, sehingga ia pun sering menjadi jujugan para junior untuk berguru. (Obi)-o

Jemek “Mimer Sejati” Supardi


Sena A. Utoyo dan Didi Petet tahun 1987 keduanya membuat wadah teater pantomim Sena Didi Mime.Kelompok ini memproklamirkan diri sebagai teater pantomim karena dalam penampilannya selalu melibatkan banyak pemain. Teknik gerak yang ditampilkan perpaduan gerak klasik, gerak modern, gerak tradisional dalam seni pantomim. Dalam garapannya selalu menampilkan tema sosial, suasana puitis serta simbolik. Hal itu dapat dilihat dalam karyanya seperti: Beca (1987), Stasiun (1988), Soldat (1989) Sekata Katkus du Fulus (1992), Se Tong Se Teng Gak (1994), dan Kaso Katro (1999). Jika dahulu Sena A. Utoyo (alm.) lewat kelompoknya Sena Didi Mime berusaha memasyarakatkan mime di Indonesia.
Sekarang masih adakah seniman mim sejati yang tetap setia menghidupi seni pantomim di Indonesia. Pengabdiannya yang panjang dan usianya setengah abad memang bukan hal yang mudah untuk tetap eksis dan intens dalam sebuah profesi. Siapa dia Seniman pantomim itu? Ternyata dia ada di Yogyakarta, namanya Jemek Supardi. Laki-laki kelahiran dusun Kembangan Pakem Sleman 22 Mei 1957 ini bertubuh kecil bahkan kecentet seperti Charlie Chaplin, jidatnya lebar. Penampilan kesehariannya sangat sederhana. Kaos, celana jeans belel dan topi biasa dikenakan. Tetapi kalau sudah diatas pentas gerak-geriknya bagaikan tiada tertandingi oleh siapa pun.
Masa kanak-kanak Jemek sudah akrab dengan keramian kota Yogya. Ia bersama keluarganya tinggal di Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta yang sangat dekat dengan Taman Hiburan Rakyat (THR) sekarang Pura Wisata. Latar pendidikan formal Jemek diawali di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta. Di SSRI ini ia hanya bertahan belajar selama dua bulan.
Jemek raja Kampret. Masa remaja Jemek diwarnai dalam kehidupan dunia hitam. Ia di lingkungan preman jamannya dikenal dengan nama kebesaran Kampret. Dimana daerah kekuasaan si Kampret berada di kawasan kuburan Kerkop THR Yogyakarta dan sekitarnya.Kampret adalah sejenis kelelawar, binatan malam yang biasa terbang mencari mangsa, mencuri buah-buahan di malam hari. Itulah sekilas masa lalunya Jemek Supardi. Berkat kesenian ia pun menjadi sembuh dari kebiasaan mengkampret.
Jemek dalam kesempatan tertentu mengatakan tentang seluk beluk dunia hitamnya. “Saya pernah masuk bui di Cirebon, nginap gratis di Kepolisian Ngupasan Yogya, akibat terseret dunia hitam. Itu kenyataan hidup saya yang tidak dapat dipungkiri. Berkat kesenian, saya dapat hidup normal. Saya berhutang budi pada kesenian sebab saya diberi pelajaran hidup yang berharga oleh seni. Untuk itu saya tidak dapat lepas dari seni, khususnya pantomim. Pantomim membuat saya ada artinya. Simbok saya pun menjadi tenteram dengan kehidupan saya yang menekuni kesenian. Tidak seperti dulu, terseret dunia jahat”.
Awal mula Jemek mengarungi dunia seni dilakukan di sanggar atau kelompok teater. Tahun 1974 ia bergabung dengan Teater Alam pimpinan Azwar AN. Ia banyak belajar dalam bidang artistik, sebagai kru pementasan dan selalu serius mengikuti olah tubuh. Di kelompok inilah asalmuasalnya Jemek berpantomim. Jemek selalu mengikuti Merit Hendra latihan pantomim. Segala gerak-gerik Merit ditirukan, ia pun rajin berlatih secara terus menerus tentang bahasa tubuh.Selain di Teater Alam, Jemek juga aktif di Teater Dipo yang merupakan cikal bakal Teater Dinasti pimpinan Fajar Suharno. Beberapa pentas bersama Teater Dinasti yang dialami Jemak antara lain: Syeh Siti Jenar, Gendrek Sapu Jagad, Geger Wong Ngoyak Macan, Umang-umang. Kemudian Jemek bersama Jujuk Parbowo pernah membantu Yullie Taymor, seorang teaterawan boneka Amerika Serikat keliling Indonesia.
Pemahaman Jemek tentang pantomim masih jauh dari sempurna, baru tahun 1975 ketika di gedung Seni Sono Art Galery ada pementasan mime berjudul Manusia dan Kursi oleh Wisnu Wardhana, maka pantomim semakin menjadi perhatiannya. Kenapa Jemek memilih pantomim, seperti dituturkannya:”Saya menggeluti pantomim, soalnya saya itu sangat kesulitan menghafalkan naskah dalam setiap produksi teater. Jika disuruh menghafalkan naskah selalu tidak nyantol, maka saya lebih puas bergerak melalu seni pantomim ini”. Mulai saat itulah Jemek menjatuhkan pilihan pada pantomim sebagai wahana ekspresi artistiknya.
Dunia seni pantomim bagi Jemek Supardi mepakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Artinya, Jemek berkat pantomim dapat menemukan kembali kesadarannya sebagai manusia normal. Ia kembali dalam kewajaran manusia yang harus bermasyarakat. Kapan Jemek mulai berpentas pantomim? Secara lugas dijawabnya, “Persisnya saya lupa. Kalau tidak salah mulai tahun 1976. Pertama kali mendukung pementasan pantomim Azwar AN., yang berjudul Malin Kundang di gedung Seni Sono Art Galery. Saya pun tidak muncul penuh, hanya telapak tangan dan telapak kaki saja yang dilihat penonton. Itulah awal saya ikut pentas pantomim, belum pentas sendiri”.
Proses kreatif Jemek dalam mecipta pantomim dilakukan dengan menggeliding. Lebih kanjut dipaparkan sebagai berikut:”Dalam mencipta, mime, ya, saya menggelinding saja. Seperti dalam kehidupan ini. Saya sudah di cap sebagai pantomimer, maka saya harus berkarya. Yang penting bagi saya mengolah tubuh supaya luwes, ada ide yang orisinal, keberanian berekspresi dan mementaskannya secara serius”. Proses yang dilakukan Jemek dengan olah tubuh, yakni bagaimana seorang seniman harus bekerja keras menyiapkan dirinya masuk dalam proses berkesenian secara total. Dengan demikian pasrah dirilah. Mental, pikiran dan tubuh harus lentur.
Karya seni mime Jemek Supardi biasanya dibawakan tunggal dan kolektif. Dekade 1970-an merupakan masa proses pencarian mime Jemek Supardi, yang terangkum dalam Sketsa-sketsa Kecil (1976-2979). Delkade 1980-an karya-karyanya seperti: Perjalanan hidup dalam gerak (1982), Jemek dan Laboratorium, Jemek dan teklek, Jemek dan Katak, Jemek dan Pematung, Arwah Pak wongso, Perahu Nabi Nuh (1984), Lingkar-lingkar, Air, Sedia Payung Sesudah Hujan, Adam dan Hawa, Terminal-terminal, Manusia Batu (1986), Kepyoh (1987), Patung selamat datang, Pengalaman Pertama, Balada Tukang beca, Halusinasi, dan Wamil (1988). Dekade 1990-an, karya-karyanya meliputi: Maisongan (1991), Menanti di Stasiun (1992),Termakan Imajinasi (1995), Pisowanan, Kesaksian Udin, Kotak-kotak, Pak Jemek Pamit Pensiun (1997), Badut-badut republik atau Badut-badut Politik, Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi, Dewi Sri Tidak menangis, Menunggu Waktu, Pantomim Yogya-Jakarta di Kereta (1998) dan Eksodos (2000).
Mas Jemek yang sudah mencurahkan hidupnya di pantomim saat ini pun tetap tinggal di bilangan Jl. Brigjen Katamso didampingi sang isteri Treda dan putrinya Sekar bahkan tetap setia menunggui Simboknya. Fenomena Jemek dalam era reformasi semestinya akan semakin menambah munculnya “mimer sejati”. Siapa yang berani memasuki dunia kesejatian diri seperti Jemek Supardi? Broto Wijayanto, kau mau jadi generasi atau yang lain? Dan ruang waktu lah yang akan menguji !

Kamis, 12 Juli 2007

Seni Hidup dari Kuburan


Sebuah catatan oleh Sindhunata)

INILAH kisah tentang seorang tukang cukur. Dia bukan pemotong rambut modern. Dia hanyalah tukang cukur tradisional. Maka tempat kerjanya bukan di salon, melainkan di bawah pohon. Selain gunting, di mejanya ada tondhes serta semprotan untuk memiting dan membasahi rambut.
SUDAH lama tukang cukur itu duduk termangu, tak juga datang pelanggan yang ditunggu. Sesekali datang jugalah orang padanya. Dia sudah siap mencukurnya. Ternyata orang itu hanya mau pinjam sisirnya saja. Kemudian datang orang lain. Kali ini ia hanya numpang meminjam gunting untuk merapikan kumisnya. Tak lama kemudian datang lagi seorang lain. Ia pun hanya berhenti sejenak, mematut-matut diri di depan kaca.
Tukang cukur itu melongo. Ia benar-benar ingin mencukur, tapi tak ada orang yang mau dicukur. Syukur ada seorang anak kecil. Sebenarnya anak ini sama sekali tak berniat mencukurkan rambutnya. Tapi karena diiming- imingi permen oleh si tukang cukur, akhirnya ia mau dicukur.
Ternyata rambut anak itu sulit dicukur. Maklum, rambutnya gimbal berikal-ikal. Digunting tidak mempan, di-tondhes mental, sampai si tukang cukur kehabisan akal. Tiba-tiba anak itu terkaget, ternyata kepalanya kejatuhan tahi burung.
Sejak itu, si anak tak bisa tenang lagi. Sebentar-sebentar kepalanya menggeleng ke sana ke mari. Tukang cukur meluruskan kepalanya berkali-kali, toh kepala anak itu terus miring ke kanan miring ke kiri. Habis sudah kesabaran si tukang cukur. Kepala anak itu pun dijitaknya.
Tentu anak kecil itu lalu menangis. Ia lari, lalu kembali lagi bersama ayahnya. Si ayah marah-marah, sambil menunjukkan rambut anaknya yang petal-petal. Dengan geram ia menyuruh tukang cukur merampungkannya.
Belum selesai dicukur, hujan mendadak turun. Anak itu lari, sementara selubung kain putih yang melekat di badannya ikut terbawa pergi. Si tukang cukur melongo lagi. Ia menoleh ke teman di sebelahnya yang juga tukang cukur.
Teman ini juga sedang sepi dari pelanggan. Maka si tukang cukur minta agar temannya ini bersedia untuk dicukur. Setelah itu ia sendiri ganti meminta agar temannya mencukurnya. Kedua tukang cukur yang sama-sama sepi pelanggan itu akhirnya saling cukur-cukuran.
Begitulah kisah si tukang cukur. Harap diingat, cerita itu bukan berasal dari dongengan lisan atau tulisan, melainkan dari adegan pantomim yang dipentaskan oleh Jemek Supardi. Jemek, pantomimer terkenal dari Yogyakarta, yakin bahwa pantomim mempunyai kekayaan dan kemampuan yang tidak dipunyai seni lainnya.
Dengan pantomim, ia merasa lebih bisa mengimaginasikan dan menghidupkan apa yang kurang bisa diimaginasikan atau dihidupkan seni lainnya. Adegan tukang cukur di atas kiranya membuktikan perkiraan tersebut: Dengan gerak pantomim, kisah sepi pelanggan seorang tukang cukur ternyata bisa digarap menjadi khayalan tentang kesepian manusia pada umumnya.
Halnya adalah konkret, yakni peristiwa tukang cukur yang sepi pelanggan. Pantomim Jemek ternyata bisa mengubah kesepian yang konkret ini menjadi absurditas kesepian manusia. Dan tukang cukur itu pun berubah menjadi karikatur manusia yang konyol dan absurd karena didera oleh kesepiannya.
Dalam kesepian itu ia menjadi terasing dari pekerjaannya, sampai ia ngebet untuk bisa mencukur lagi. Begitu ia merasa bisa mencukur, tahi burung mengganggunya, dan hujan melepaskan kesempatan itu, sampai akhirnya ia kehilangan selubung putihnya. Ia lalu menyerah, dan terjadilah puncak dari absurditas kesepian itu: tukang cukur itu yang haus mencukur itu akhirnya menyerahkan kepalanya sendiri untuk dicukur.
KHAS Jemek, ia selalu berupaya memberangkatkan pantomimnya dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Itulah yang tampak misalnya dalam karyanya Menggapai Perahu Nuh. Di sini Jemek menggambarkan, tiba-tiba dunia ini dilanda banjir. Banjir dahsyat itu menenggelamkan semua makhluk.
Dari atas turunlah perahu Nabi Nuh. Baik mereka yang mati maupun yang hidup menggapai-gapai perahu itu. Mereka tidak berhasil, dan tertinggal dalam malapetaka. Sebagai manusia, Jemek terkejut, ternyata bukan hanya manusia yang masih hidup, tapi juga arwah-arwah yang mati itu pun belum memperoleh keselamatannya. Maka ia pun berdialog dengan mereka, dan berupaya membantu mereka menyelamatkan diri.
Adegan "Perahu Nuh" ini sungguh berangkat dari pengalamannya yang nyata. Di suatu siang Jemek tertidur kelelahan di makam Kintelan. Ia bermimpi, makam itu tiba-tiba kebanjiran. Ia sendiri tenggelam dan melihat makhluk-makhluk keluar dari kuburan.
Jemek tersadarkan dari mimpinya, ketika dua rekannya, Djaduk Ferianto dan Suharno, membangunkannya untuk segera latihan teater. Dari mimpinya inilah Jemek menyusun karyanya, dengan tujuan mempertontonkan kepada siapa saja, bahwa betapa pun sudah berada di ujung malapetaka, mereka yang hidup maupun yang mati tetap mempunyai kesempatan untuk menantikan pintu surga.
Sesungguhnya tak mengherankan bila makam atau kuburan memberi inspirasi bagi Jemek. Maklum, kuburan adalah tempat yang akrab baginya. Malahan dari kuburan itulah ia pernah mendapatkan nafkah hidupnya.
Jemek bertutur, tak lama sesudah peristiwa G30S PKI, ada pembongkaran kuburan Belanda di daerah THR Yogyakarta. Kuburan itu hendak dijadikan terminal. Waktu itu Jemek belum berkesenian, umurnya menjelang dua puluh tahun.
Siang hari ia menyaksikan, bagaimana kuburan-kuburan itu digali. Malam hari ia pergi ke sana lagi untuk melakukan operasi. Ia membongkar peti mati. Begitu peti mati terbongkar, tampaklah kerangka manusia.
"Rasanya seperti mengalami sendiri film-film horor," kata Jemek. Ia bergegas mengumpulkan barang-barang, seperti salib, tasbih, atau perhiasan. Bahkan pegangan peti pun disikatnya. Semua barang curian itu diperhitungkan sebagai barang antik dari Nederland.
Dengan mudah keesokan harinya Jemek menjualnya pada sindikat penampungan barang-barang antik yang berasal dari kuburan. Lama ia melakukan pekerjaan horor itu. "Teman saya, sesama pencuri, banyak yang jatuh sakit. Katanya, roh-roh marah pada mereka. Saya sendiri sehat-sehat saja," kata Jemek.
Ada lagi kisah, bagaimana Jemek memanfaatkan kuburan. Di kuburan tempat ia beroperasi ada sebuah makam. Kata orang, di makam itu disemayamkan seorang Belanda, bernama Tuan Joni. Makam Tuan Joni dianggap keramat dan bertuah.
Padahal, kata Jemek, sudah tiada lagi jasad Tuan Joni di dalamnya. Tiap malam Jumat Kliwon, ada seorang pengusaha Cina yang selalu berziarah ke makam itu. Diantar oleh Pak Darno, juru kunci makam, pengusaha kaya itu meletakkan sesajen yang disukai Tuan Joni semasa hidupnya. Maka di samping kemenyan dan bunga setaman ada juga buah-buahan, wiski dan cerutu.
Jemek melihat, setelah mengantar pengusaha itu pulang, Pak Darno mengambil lagi sesajen itu. Ia tak mau ketinggalan untuk menikmati rezeki. Maka setiap malam Jumat Kliwon, ia bersembunyi di atas pohon beringin, sebelum Pak Darno dan pengusaha itu datang.
Begitu Pak Darno mengantar pengusaha itu pulang, Jemek turun dari persembunyiannya, lalu meraup sesajen. Pak Darno heran bercampur takut, jangan-jangan ada makhluk halus yang mengambil sesajen itu.
Kejadian ini berlangsung sampai tiga kali. Ia curiga, pasti ada manusia yang mencuri sesajennya. Maka ia mencari ke sana ke mari, sampai ia menemukan Jemeklah malingnya. Pak Darno tak mempunyai alasan untuk marah pada Jemek. Sebab, kata Jemek, ia telah membohongi pengusaha itu.
Bagaimana mungkin orang bisa memberi sesajen pada Tuan Joni, padahal di makam itu sudah tiada jasadnya lagi? Akhirnya, tercapailah kompromi. Tiap kali ada sesajen untuk Tuan Joni, sesajen itu harus dibagi. Begitulah, tiap malam Jumat Kliwon, Jemek selalu mendapat jatahnya, kadang wiski, kadang cerutu, tanpa ia bersusah payah lagi dengan menjadi "hantu".
Dari makam Jemek tak hanya mendapat inspirasi untuk mencuri. Di sana ia sering terbawa untuk diam-diam berkontemplasi. Siang hari sambil terkantuk-kantuk ia mengamati patung malaikat. Rasanya patung itu diam, tapi indah.
Di sana juga ada patung Maria yang memangku jenazah Yesus. Jemek tidak tahu bahwa patung itu adalah Pieta. Namun ia merasa betapa patung itu penuh dengan penderitaan dan ketabahan, seperti yang dimaksudkan oleh Pieta yang menggambarkan penderitaan dan ketabahan Maria. Perasaan mendalam yang diperoleh dari patung di kerkop (makam) Belanda inilah yang kemudian memberi inspirasi bagi Jemek untuk menciptakan karyanya Jakarta-Jakarta.
Dalam karyanya itu Jemek menggambarkan dirinya bertukar peran dengan patung "Selamat Datang ke Jakarta", yang ada di Bundaran HI. Patung itu mengira, enaklah menjadi manusia karena bisa ke mana-mana, sebaliknya Jemek mengira, enaklah menjadi patung karena bisa tenteram dan tenang.
Karena itu Jemek menawarkan diri menjadi patung, dan patung itu mau menjadi manusia. Maka mengembaralah patung itu ke sudut-sudut Kota Jakarta. Ia hidup di suatu tempat, ternyata di sana ia ikut tergusur. Ia pergi ke Pasar Senen, ternyata di sana ia lari terbirit- birit, dikejar-kejar massa, karena dituduh pencopet. Ternyata jadi manusia itu tidak enak.
Sementara di Bundaran HI Jemek sebagai patung juga menderita. Ia kehujanan dan kepanasan, tiap saat, siang dan malam, ditimpa kebisingan. Kalau ada pesawat lewat, patung Jemek harus menundukkan diri berulang-ulang agar badannya tak hancur tersambar pesawat terbang.
Manusia diganggu nyamuk, patung diganggu pesawat. Akhirnya Jemek dan patung itu bertemu lagi, dan memutuskan untuk kembali seperti semula. Maka Jemek kembali menjadi manusia lagi, dan patung menjadi patung, namun ini terjadi dengan kesimpulan: menjadi manusia itu susah, menjadi patung juga susah.
MEMANG menjadi manusia itu susah. Itulah yang dialami Jemek, hampir sepanjang hidupnya sampai usianya yang ke lima puluh ini. Tapi katanya, susah atau tidak, ia sudah ditakdirkan menjadi manusia, karena itu ia harus menerimanya.
Dan justru karena menjadi manusia itu susah, maka janganlah manusia mempunyai target yang muluk-muluk. Maka demikianlah pendirian Jemek: Dalam hal moral, tak ingin ia bermimpi, bahwa ia bisa menjadi sangat baik; bahwa ia bisa mengurangi kejelekannya, itu sudah sangat lumayan.
Dalam hal ekonomi, asal ia bisa mencukupi hidupnya untuk hari ini saja, cukuplah itu sudah baginya. Pendirian hidup yang antitarget ini tentu tak bisa dilepaskan dari riwayat Jemek sendiri.
Kata Jemek Supardi, ia tak pernah tahu, mengapa ketika muda ia tiba-tiba terlempar ke dalam dunia yang gelap. Di sana terbukti ia mempunyai "bakat" mencopet, dan karena kelincahannya ia dijuluki Pardi Kampret. Kendati kecil, Pardi Kampret ini sangat disegani oleh teman-temannya yang tergabung dalam geng Lowo Ijo.
Maklum, Jemek yang seperti kampret memang licik dan lihai dalam mencopet. Ia mempraktikkan dengan andal segala teknik mencopet, seperti nguthil (menyikat barang atau makanan), njonthi (menempelkan badan ke korban, supaya temannya leluasa mencopet), dan ngemut leseh (mencopet dompet).
Pernah Jemek mencuri galundheng (roti goreng) di Pasar Bringharjo. Galundheng itu dibungkus dalam plastik. Tiap plastik berisi dua belas buah.
Menurut teknik nguthil, untuk tindakan itu ia seharusnya mengambil bungkusan plastik yang paling atas. Karena terburu nafsu, Jemek justru mengambil bungkusan yang paling bawah. Akibatnya, tumpukan galundheng runtuh menggelundung. Pemiliknya jadi tahu, lalu mengejar Jemek.
Karena kegesitannya, Jemek bisa menyelamatkan diri. Dalam bahasa para dauri (teman sepencopet) waktu itu, ia tidak jadi keakep (tertangkap). Namun tak senantiasa Jemek beruntung. Ia pernah keakep di Cirebon, malahan ia pernah mendekam di Polsek Ngupasan seminggu lamanya. "Reken-reken sambil istirahatlah," kenang Jemek tentang hari malangnya itu.
Jemek tidak hanya petualang dalam mencopet, tapi juga dalam perilaku lainnya. Pernah seorang gadis lugu, pelayan penjual jamu, hamil. Menurut pengakuannya, enam lelaki yang menghamilinya. Salah seorang dari mereka adalah Jemek.
Keenam lelaki itu mengakui perbuatannya. Hanya soalnya, siapa sekarang yang harus bertanggung jawab mengawininya. Jemek mengacungkan jarinya. Alasannya, hanya karena ia sok pahlawan. Kelima temannya setuju, lalu mengumpulkan uang Rp 75.000, termasuk untuk membereskan keresmian surat perkawinan.
Hari peresmian tiba. Jemek berpakaian biasa naik becak ke Kantor KUA, diantar seorang temannya, yang berjas rapi. Petugas mengira, pemuda yang berjas itu pengantin lelakinya. Ternyata bukan dia, tapi Jemek, yang justru tampak seperti pemuda berandal itu.
Setelah pemberesan perkawinan, Jemek langsung berpisah dari istrinya. Maklum, si istri tidak menuntut Jemek menjadi suaminya. Wanita itu hanya butuh bahwa ada lelaki yang secara sah menjadi bapak anaknya.
Ada lagi cerita, betapa Jemek benar licik seperti kampret. Di daerah operasinya ada seorang wanita penghibur, yang dikenal ulet dan kuat. Teman-teman Jemek mengajaknya berkencan, dan setelah itu mencoba menipunya agar mereka tidak membayar.
Ternyata mereka tidak berhasil, padahal mereka semua terkenal jago dalam menggratiskan diri terhadap wanita penghibur yang telah dikencaninya. Jemek penasaran, ia pasti bisa mengakali wanita itu.
Suatu malam, dibawanya wanita itu ke emperan sebuah sekolahan. Setelah mengencaninya, Jemek tidak langsung membayar. Ia bilang, mau membersihkan diri di sumur terlebih dahulu. Wanita itu ternyata tidak melepaskannya.
Sementara Jemek menimba air, wanita itu merangkulnya kencang-kencang, takut Jemek lari darinya. Jemek tidak kehilangan akal. Ember timba belum sampai ke atas, ia bilang, "Sebentar, saya mau menyingsingkan celana saya," katanya.
Si wanita terpaksa memegangi tali timba, dan dengan demikian lepaslah rangkulannya. Jemek tidak menaikkan celananya, tapi terus melambaikan tangannya sambil bilang, "Wis ya (Sudah ya)."
Karena takut ketahuan orang atau penjaga sekolahan, wanita itu tidak berani berteriak. Sementara bila tali timba dilepas, di dasar sumur akan timbul suara berdebum keras. Dan orang akan ribut karenanya. Maka dengan hati geram, ia terpaksa terus menimba, sambil melihat Jemek pergi meninggalkannya. Jemek betul-betul Kampret.
JEMEK tak tahu, kapan petualangannya akan berhenti. Syukur, ketika ia berusia dua puluh lima tahun, ia mulai berkenalan dengan dunia seni. Ia mulai tertarik pada tokoh-tokoh Bengkel Teater Yogyakarta pada waktu itu, seperti Adi Kurdi, Suharno, dan Ketib Suratmo.
Ia juga berkenalan dengan orang- orang dari Teater Alam. Teman-teman teater menilai, Jemek mempunyai bakat seni. Jemek sendiri sebenarnya pernah mencoba merintis bakatnya itu. Setelah tamat SMP, ia masuk ke SSRI. Tapi di sekolah seni itu ia hanya bertahan dua bulan.
Bakat pantomimnya mulai ditemukan, ketika ia ikut dalam pementasan Maling Kundang. Waktu itu ia hanya menjadi figuran yang memerankan gerak-gerak air. "Saya benar menikmati jadi air. Dari sana saya mengerti filsafat air. Hidup ini memang harus seperti air, cair, lincah, mengalir ke mana ia diperlukan," kata Jemek.
Syukur Jemek berjumpa dengan kesenian. Katanya, kesenianlah yang menyelamatkan hidupnya. "Tapi itu tidak berarti bahwa dengan berkesenian saya bisa sembuh total dari kejelekan saya. Tidak, sampai sekarang pun saya merasa tidak bisa sembuh total. Saya sudah puas, bila saya bisa mengurangi kejelekan saya, betapapun sedikitnya," tutur Jemek realistis.
Menurut Jemek, manusia tak mungkin bisa disembuhkan total dari kejelekannya, karena dalam lubuk hatinya yang terdalam, manusia ini memang jahat, kotor, dan tidak jujur. Situasi real manusia inilah yang pernah ia pentaskan dalam karyanya Arwah Pak Samun.
Karya pantomim itu bercerita tentang Pak Samun, seorang buruh perkebunan, yang bekerja pada seorang tuan tanah Belanda. Pak Samun benar-benar hamba yang tekun dan jujur. Karena itu oleh tuannya ia diangkat menjadi mandor di perkebunannya.
Setelah hidupnya enak, ternyata Pak Samun menjadi tamak dan jahat. Ia serakah akan tanah, serta tega memeras bawahannya. Dan karena ia haus kenikmatan, ia pun terjerumus ke dalam cacat Jawa, yang biasa disebut ma lima (main judi, madat, maling, mabuk, dan main perempuan).
Begitu menjadi enak dan mapan, Pak Samun ternyata dijajah oleh nafsunya sendiri. Akhirnya ia terpelanting dari hidupnya yang enak dan nikmat tadi, terlunta-lunta dan mati di bawah jembatan.
Jemek memeras kisah Pak Samun dalam kesimpulan, "Kebaikan dan kejujuran itu ternyata tidak pernah bebas dari pamrih. Pak Samun jujur dan baik, karena ia ingin memiliki posisi. Kejujuran dan kebaikannya ternyata pura- pura belaka. Setelah posisi diraihnya, kejujuran dan kebaikannya pun sirna. Tampaknya bila manusia terbebas dari pamrihnya, baru ia bisa menjadi baik dan jujur sepenuh-penuhnya. Tapi kapan manusia bisa bebas dari pamrihnya?"
Jemek sendiri mengakui, masa lalunya adalah jelek dan kelam. Tak mungkin ia bisa membebaskan diri seluruhnya dari kejelekan dan kekelaman itu. Maka Jemek menerima, jika kejelekan dan kekelaman itu tetap membayang-bayangi hidupnya.
Menurut Jemek, itulah sesungguhnya yang disebut karma. Karena keyakinannya itu dengan mudah Jemek melihat, penderitaan dan beban yang kini dia alami sebagai semacam karma yang harus ia tanggung karena kesalahan masa lalunya.
Memang sampai sekarang Jemek seakan selalu dicobai dengan berbagai kesulitan dan kepedihan. Treda, istrinya, sangat mencintainya. Namun karena kemalangan yang menimpa keluarganya, Treda mengalami gangguan psikis dan mental.
Bila kumat, Treda bertindak aneh- aneh, seperti layaknya orang yang terjerumus ke dalam depresi berat. Syukurlah di saat sehat, Treda yang pelukis itu bisa berkarya dengan normal. Jemek maupun Treda lebih bersyukur lagi, karena mereka dianugerahi seorang putri yang sehat. Anak mereka itu kini menjadi gadis yang cantik dan tabah. Ia menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
Kadang lukisan Treda laku. Kadang dari pentas pantomimnya, Jemek mendapat honorarium ala kadarnya. Dengan rezeki yang hanya kadang-kadang itu, Jemek mempertahankan hidup keluarganya. Jelas, rezeki macam ini tidak cukup untuk bisa dijadikan jaminan bagi kelangsungan ekonomi keluarganya.
Tapi darimana lagi ia bisa mengharap datangnya rezeki? Jemek tak berkhayal. Ia menerima kesulitan ekonomis itu sebagai bagian hidupnya. Karena itu ia mempunyai pedoman sederhana: Tak usah berpikir bagaimana besok, asal hari ini ada yang dimakan, cukuplah.
Buat Jemek, setiap jam adalah kesempatan. Maksudnya, sebelum jam dua belas malam lewat, berarti masih ada kemungkinan ia akan mendapat uang. "Saya merasa sudah tenang, bila sebelum jam dua belas malam, saya mendapat uang, meski hanya lima ribu rupiah. Artinya, dengan uang itu saya masih bisa melanjutkan hidup keluarga saya sehari lagi," kata Jemek.
Spekulasi Jemek itu terbukti misalnya pada peristiwa akhir Maret lalu. Pagi hari ia buru-buru pergi ke Magelang. Di sana ia berpentas, ternyata usai pentas, ia hanya diberi sebuah buku. Lalu ia pulang ke Yogyakarta, dan pergi ke sudut kota, untuk pentas lagi.
Ternyata ia hanya diapresiasi dengan ucapan terima kasih. Jam sepuluh malam ia sampai di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta, di mana Ketoprak Ndheprok Ting Ting Hik sedang mementaskan lakon Wonk Ciak Wonk alias manusia makan manusia. Jemek diajak untuk memantomimkan secara spontan adegan manusia makan manusia itu. Ia tidak mengira, akhirnya malam itu ia menerima honorarium juga. "Benar kan, sebelum jam dua belas malam berlalu, rezeki bisa datang selalu," katanya.
Ada saja cara Jemek memperoleh uang. Yang paling sering dengan ikut berjudi kecil-kecilan. Jemek mengaku, sejak muda ia suka berjudi. Sekarang cacat itu belum hilang sama sekali. Ia masih suka berjudi kecil-kecilan dengan main domino, sam-gong, atau cliwik.
Sering ia juga bermain togel, toto gelap. Ia juga membantu seseorang untuk menggadaikan barangnya lalu membayar bunga pada seorang penjudi, karena orang tersebut membutuhkan modal untuk berjudi. Jemek memperoleh uang jasa bagi keperluan tersebut. Itulah yang dalam dunia judi disebut tumpang sari.
Jemek tahu, judi itu maksiat. Tapi justru dengan uang dari judi kecil-kecilan itu ia bisa melangsungkan hidupnya, paling tidak untuk besok pagi. "Buat saya, hidup ini adalah judi. Hidup ini adalah taruhan. Saya tidak tahu, apa yang akan terjadi. Dalam hidup ini saya hanya tahu, saya harus berani bertaruh," kata Jemek.
Di tengah kesempitan hidup semacam ini, Jemek tetap bertekun menjalankan kesenian. Padahal kesenian yang dijalankannya adalah pantomim, kesenian yang langka, tidak populer, serta tak menjamin rezeki. Karena ketekunan dan kesungguhannya itu pantaslah bila teman-teman seniman di Yogyakarta memperingati ulang tahunnya yang kelima puluh, awal bulan Maret lalu.
Sampai usianya yang kelima puluh ini, Jemek selalu berani berspekulasi seperti ini: bila ia naik kereta untuk berpentas di luar kota, Jakarta atau Bandung misalnya, ia tidak membawa uang, kecuali "uang tempel". Begitu ada kondektur memeriksa tiket, ia segera menyalaminya, dan menempelkan uang ke telapaknya.
Sering-sering hanya lima ribu rupiah. Walau dengan waswas, ternyata Jemek selalu dapat selamat sampai ke tujuan, lalu di sana main pantomim.
Jemek dan keseniannya memperlihatkan bahwa hidup ini bisa dijalankan dengan kreatif dan gembira, meski manusia selalu waswas, deg-degan serta tanpa jaminan apa-apa dalam menghadapinya. Jemek alias Pardi Kampret mungkin merasa, mungkin tidak, bahwa justru dalam kontradiksi itulah hidupnya sendiri telah menjadi seni. ***
Sindhunata Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta

Rabu, 11 Juli 2007

Mereka Mencari Perspektif Mo-Limo


YOGYAKARTA -- For Sale. Tulisan warna merah itu mencolok di bawah gambar kepala manusia tanpa rambut, hanya tersisa jambul yang menyembul kepala. Drawing di atas kertas koran karya pelukis Hendro Suseno ini menyita perhatian pengunjung. Mereka terpaku, mengamati tulisan yang menjadi latar belakang lukisan itu. Samar-samar berita koran itu terbaca. Indonesia Sukses, judulnya. Di sampingnya, ditempel gambar dua calon presiden, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Karya Hendro itu, satu di antara 30 karya seni yang dipamerkan 30 perupa di Bentara Budaya Yogyakarta, 21- 27 September 2004. Beberapa di antaranya karya perupa Joko Pekik, Ivan Sagito, Nyoman Masriadi, Entang Wiharso, Samuel Indratma, Yuswantoro Adi, Nasirun, Alex Luthfi, Bunga Jeruk, Noor Ibrahim, S. Teddy D., Yamyuti Dwi Iman, dan Arahmaiani. Pameran bertajuk 4 Sehat Mo-Limo Sempurna ini digelar untuk memperingati ulang tahun Bentara Budaya yang ke-22. Lalu apa hubungan karya bertajuk Vox Populi Vox Dei (Suara Rakyat Suara Tuhan) ini dengan mo-limo? Menurut Hendro, mo-limo bukan sekadar mabuk, main, madat, madhon (main perempuan), dan maling. "Saya melihat mo-limo dalam konteks yang lebih besar. Tidak hanya dalam kultur agraris saja, tapi kultur kota. Konteks mo-limo sebagai kultur baru, harus didaur ulang. Jadi korupsi dan kejahatan lain di kalangan elite politik itu juga perbuatan mo-limo," kata Hendro. Bagi Hendro, tawaran beasiswa dalam program Indonesia Sukses yang disebarkan lewat surat kabar sangat mungkin merupakan program yang memiliki konflik kepentingan tinggi. Program yang mengeruk dana miliaran dari beberapa BUMN ini bisa menjadi mo-limo yang lebih besar, meskipun belum ada BUMN yang mengakui. "Ketika calon presiden itu kalah, apakah program itu akan tetap jalan? Bisa jadi program ini batal," ujar Hendro. Berbeda Seniman menangkap mo-limo dengan pandangan yang berbeda-beda. Sebagian masih menilai mo-limo identik dengan main perempuan. Lihatlah Sumpah Aku Ora Tau Madhon (sungguh aku tidak main perempuan). Lukisan cat minyak karya Sigit Santoso ini menggambarkan tubuh laki-laki yang wajahnya tertutup kaus yang sedang diangkat ke atas. Tubuh itu penuh bekas lipstick, dan kancing celana jinsnya sedikit terbuka. Sebuah kemunafikan. Semakin munafik akan semakin kelihatan kebusukannya. Sementara itu, Hermanu mengangkat Panca Mo. Wajah laki-laki yang otaknya penuh simbol mo-limo, kartu judi, gelas ciu, dan wanita telanjang. Maksudnya, nafsu datang dari nalar. Nafsu bisa vulgar dan terang-terangan, sementara nalar bisa lebih halus dan tersembunyi. Namun, nalar yang sudah terendam ciu (arak) hanya menghendaki perempuan. Keinginannya hanya bermain judi. Pande Ketut Taman lain lagi. Menurut dia, manusia yang kehilangan nalar akan menuruti naluri nafsunya sampai serupa binatang. Ia menggambarkan berupa laki-laki naik tikus dan tikusnya mengendarai celeng. Karya Kendaraan Menuju Kenikmatan itu menggambarkan kebusukan, kelicikan manusia karena dikendalikan kerakusan. Nafsu manusia seakan tidak cukup diwadahi mo-limo. Tragedi mo-limo tergambar sangat ekstrem dalam karya Alex Luthfi bertajuk Garuda Mo-Limo. Lukisan cat minyak di atas kanvas itu menggambarkan sosok manusia berwajah monster, raksasa mirip binatang. Seluruh tubuhnya berfungsi sebagai penikmat tercela. Ada garuda terjepit di selangkangan. Garuda yang seharusnya mengatur tindakan moral manusia itu tak berdaya. Salah satu sifat manusia, tidak menyerah pada misteri. Bambang Toko mewujudkannya dalam karya Ramalan Jitu. Di bagian atas komiknya itu bertulisan: Ramalan Asli Romo Sindhu. Komik itu menggambarkan ramalan dengan berbagai teka-teki misalnya: minum susu campur sirup, sayur lodeh pakai kecap, pemadat khianati menteri, mabuk pakai kebaya, dan sebagainya. Tulisan-tulisan itu dibarengi gambar yang maknanya juga masih teka-teki. Sementara itu, Yuswantoro Adi melihat fenomena mo-limo lewat kebiasaan anak sejak kecil. Misalnya main pengantin-pengantinan, main uang-uangan, dan suntik-suntikan. Bagi Yuswantoro, fenomena itu melukiskan kelekatan manusia yang sama sekali irasional dan tidak sadar. Demikian pula Nasirun dalam Manusiawi, menangkap hal yang sama dengan visual yang berbeda dengan Yuswantoro. Menurut Nasirun, sejauh ada manusia selalu ada mo-limo. Dalam kegelapan selalu ada pantat, ada buah dada, dan ada paha. Di dalam kegelapan itu juga ada penis yang berdiri tegang kendati yang memiliki sudah tua. Mo-limo, menurut Nasirun, bagaikan kemudaan yang terus ada dalam ketuaan. Sayangnya, hampir semua seniman melihat mo-limo sebatas makna harfiah. Tema pameran itu sendiri, menurut Sindhunata, sebuah plintiran. Sebuah ajakan untuk menatap kembali makna mo-limo. Jangan menerima begitu saja pandangan umum masyarakat tentang mo-limo ini. "Dengan demikian 4 Sehat Mo-Limo Sempurna merupakan tema yang tepat untuk mengajak kita mengkritik fenomena itu dalam wacana moral," kata Sindhunata. Lebih lanjut, menurut dia, wacana itu bukan untuk membenarkan atau menyalahkan tetapi untuk melihat apakah moral yang digembar-gemborkan itu masih efektif. Dan sebuah kutang tergantung di leher, juga celana dalam perempuan. Tak ketinggalan pula kondom, botol minuman keras dan kartu domino, menggantung di depan dada. Pantomimer Jemek Supardi mengekspresikannya lewat gerak bisu. Pelawak Marwoto Kawer memangkas habis rambut Jemek. Tanda dibukanya pameran. ln idayanie/syaiful amin